Dari Kelurahan Karang Tuban ke Amerika: Kisah Pelestari Batik Tuban hingga Mendunia

12 Feb 2026
Kelurahan Karang1

 

Di tangan Citra Donny Pamungkas, kearifan lokal batik tulis khas Tuban dapat menjadi karya seni yang mendunia.

 

Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, dia berhasil membangun relasi dengan konsumen hingga ke Benua Amerika.

 

Pagi itu, aroma malam batik bercampur wangi kayu jati tua menyambut sejak langkah pertama masuk ke galeri batik milik Citra Donny Pamungkas.

Lokasinya di Jalan Mojopahit, Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding. Suasana klasik menyeruak.

 

Hangat, tenang, dan terasa seperti potongan waktu yang tak mau beranjak dari masa lalu.

Kain-kain batik tergantung rapi dalam etalase kayu berukir. Motifnya beragam. Beberapa di antaranya seperti gelombang laut.

 

Ada pula yang tegas seperti guratan batu karang. Di pojok ruangan, terpajang foto hitam putih seorang perempuan: ibunya.

 

Wajahnya teduh, tangannya menggenggam canting. Foto itu seperti saksi perjalanan panjang sebuah keluarga yang memilih bertahan di jalur tradisi.

 

Dari balik pintu, Donny muncul. Santai dengan kaus batik biru-coklat. Auranya berwibawa. Senyumnya ramah.

 

“Selamat datang, monggo silakan duduk,” sapanya sembari menjabat tangan wartawan Jawa Pos Radar Tuban.

Obrolan pun mengalir di antara aroma malam dan nostalgia. Donny bukan pengrajin biasa. Dia penjaga nilai, pewaris kebanggaan, dan pelanjut jiwa batik Karang.

 

“Dulu di tahun 1980-an di sekitar sini hampir semuanya pengrajin batik. Sekarang hanya usaha keluarga kami yang masih bertahan,” katanya, sambil melirik deretan batik di etalase.

Donny adalah generasi ketiga dari keluarga pengrajin batik Karang. Sejak kecil, pria 31 tahun itu tumbuh di antara aroma malam, warna alami, dan cerita motif.

 

Semua itu membentuk kedekatan emosional yang sulit dilepaskan.

 

Karena itu, ketika sang ibu mulai menepi dari aktivitas membatik, giliran dia yang harus maju.

 

“Memang sudah sejak kecil keinginan saya untuk terus melestarikan batik. Untuk bisa menjaga kearifan lokal ini, menurut saya harus dari panggilan jiwa. Jika bukan kami para penerusnya, siapa lagi,’’ ujarnya lirih.

Kesungguhannya bukan main. Donny menempuh pelatihan demi pelatihan, hingga mengantongi sertifikat desain batik, teknik pewarnaan, dan batik tulis.

Dia tak hanya ingin bisa membatik, namun juga memahami filosofi di balik setiap guratan motifnya.

 

Dari Karang ke Mancanegara

 

Warisan batik keluarganya sudah menembus dunia sejak 45 tahun silam.

 

Kala itu, ibunya menitipkan karya ke kerabat yang berangkat pertukaran pelajar ke Amerika dan Belanda. Dari situ, motif-motif khas Karang mulai dikenal hingga lintas benua.

 

“Memang sejak awal batik ini sudah dipasarkan ke luar negeri. Tapi bukan ekspor besar, hanya titipan untuk dijual di sana. Ternyata peminatnya banyak,” ujarnya.

 

Kini, di tangan Donny, jejak itu makin jauh. Mei lalu, belasan kain dan selendang batik karyanya dikirim ke Jepang. Inovasi lima tahun terakhirnya membuat motif khas Karang tampil lebih modern, namun tetap setia pada akar tradisi.

Walau produknya sudah mendunia, Donny tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.

 

Rumah produksinya dilengkapi instalasi pengolah air limbah (IPAL) agar sisa proses pewarnaan aman bagi lingkungan.

 

Dia juga tengah mengurus sertifikasi halal. Memastikan setiap kain yang dihasilkan tak sekadar indah, tapi juga beretika.

“Saya ingin batik ini bukan cuma soal bisnis. Harus memberi manfaat juga bagi orang lain,” ujarnya.

 

Setidaknya ada sepuluh ibu rumah tangga yang bergabung di tim produksinya. Semua bekerja dari rumah, tetap berdaya, tetap menorehkan warna.

 

Selain memproduksi batik, Donny membuka ruang belajar bagi siapa pun yang ingin mencintai batik dari dekat.

 

Ratusan pelajar datang bergantian ke tempatnya. Dia juga sering diundang ke sekolah atau perusahaan untuk memberi kelas membatik.

“Melestarikan batik ini bukan hanya sekadar pekerjaan atau bisnis, tapi juga sebagai bentuk harapan agar budaya kita tidak akan pernah tergerus zaman,” tuturnya.(*/ds)

 Sumber : https://radartuban.jawapos.com/

Lapor Lurah